Rabu, Januari 23

PENDIDIKAN DALAM TEMPURUNG

Gaspar Van Houten adalah bayi yang dilahirkan dari hubungan gelap ayah ibunya, disaat masih bayi itulah kedua orangtuanya meninggal dunia, kemudian dia diasuh oleh kakeknya. Pada masa itu di Eropa masih sangat memegang teguh nilai-nilai moralitas puritan Victorianism dimana bayi yang berasal dari hubungan gelap dianggap sebagai anak haram. Hal itu disadari oleh kakek Gaspar Van Houten hingga bayi itu disembunyikan di loteng yang terisolasi dari dunia luar. Kakeknya hanya menyambanginya saat memberi makan, hingga saat ditemukan bocah Gaspar Van Houten yang waktu itu berusia belasan tahun ini tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menangis dan tertidur layaknya bayi yang baru dilahirkan.
Cerita yang sangat terkenal di wilayah keilmuan sosiologi dan psikologi ini menyiratkan bahwa proses perkembangan seorang anak hingga akhirnya mempunyai kemampuan berkomunikasi verbal maupun non vebal, serta kemampuan lainnya yang diharapkan sesuai dengan tugas perkembangannya (berjalan, makan, mandi sendiri, memahami posisi gender dll) sangat ditentukan pada bentuk interaksi yang didapatkannya atau dalam bahasa Chomsky seorang pakar lingustik beraliran nativisme disebut sebagai Corpus, walaupun dalam hal ini Chomsky memfokuskan pada kemampuan berbahasa.
Di Surabaya saat ini bermunculan real-estate dan sekolah. Sekolah dari tingkat paling bawah seperti Kiddies hingga tingkat universitas, dan jauh sebelum itu sekolah/yayasan yang membawa bendera agama dan terkadang etnis sudah banyak didirikan. Pastinya, coraknya jauh lebih homogen dibandingkan sekolah-sekolah negeri ataupun sekolah-sekolah umum yang ada, homogen baik secara religi, etnis maupun kelas ekonomi. Mungkin disatu sisi ini merupakan suatu kemajuan tapi disisi lain bila tidak hati-hati ini bisa jadi sebuah kemunduran bagi pendidikan pluralisme di negara ini. Padahal pluralisme merupakan hal yang sangat diakui oleh dasar negara ini, Pancasila, yang sertanya menghargai hak asasi manusia sebagai konsekuensi logis terhadap penerimaan adanya keberagaman dan perbedaan (baca; pluralisme – sat). Ketika sejak dini anak sudah berada di lingkungan yang homogen dan dia hanya berinteraksi dengan teman sebayanya yang notabene beragama sama, etnismya juga sama, ataupun kelas ekonominya yang sama sehingga semakin menguatkan potensi primordialisme yang biasanya memang sudah ditanamkan dalam tradisi/lingkungan keluarganya. Pengenalan terhadap , agama, maupun kelas ekonomi lain hanya sebatas dari buku ataupun bahan media pembelajaran saja. Pengalaman berinteraksi langsung otomatis akan sangat minim pada lingkungan pendidikan yang seperti itu. Padahal pada masa perkembangan tertentu , seperti masa kanak-kanak awal hingga masa kanak-kanak akhir dimana nilai, norma, moralitas serta penghargaan terhadap perbedaan sudah mulai diletakan, kebiasaan berkelompok dengan teman sebaya (peer-group) mulai tumbuh, diperlukan suatu pengalaman kongkret untuk menyadari bahwa perbedaan itu ada secara alamiah dan harus dihargai. Piaget menyebutkan hal itu sebagai fase operasional kongkret artinya mulai terjadinya perubahan kognitif secara abstrak maupun imajiner menjadi kongkret atau nyata (bisa dilihat, dirasakan, berempati, dll), hingga disyaratkan metode pengajaran terhadap anak pada masa itu lebih menekankan pada sesuatu yang sungguhan, tidak hanya secara tekstual bahkan visual tetapi interaksi nyata terhadap subyek pembelajaran. Oleh karena itu melalui tulisan ini diharapkan penyelenggara pendidikan yang bersifat exclusive lebih memperhatikan pendidikan pluralisme dengan tetap terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan interaksi yang sehat dengan ragam masyarakat yang ada di bangsa ini. Sehingga kelak tidak muncul lagi generasi yang membuat Undang-undang atau RUU yang jelas-jelas bertentangan dengan KEBHINEKAAN seperti RUU-APP ataupun beberapa Perda yang memberlakukan syariat didaerahnya. Dan tentunya tidak kalah penting bahwa kemajuan dunia pendidikan haruslah merata, tidak hanya dinikmati yang kaya saja, karena sekolahan yang berfasilitas bagus, dan menekankan pada bentuk kompetensi yang bersaing di era global layaknya sekolah-sekolah internasional yang banyak bermunculan saat ini, pada umumnya hanya bisa diakses mereka yang berasal dari kelas menengah atas.
Tulisan ini berharap semoga kelak tidak ada lagi generasi kita yang gagap terhadap pluralisme, gagap terhadap globalisasi dan gagap terhadap kenyataan sosial seperti halnya Gaspar Van Houten yang benar-benar gagap karena terisolasi dari bentuk-bentuk interaksi dunia luar dan dari kenyataan sosial masyarakatnya.

0 komentar: